///Apakah Kopi Kalosi Itu Kopi Toraja?

Apakah Kopi Kalosi Itu Kopi Toraja?

Kopi yang berasal dari kawasan Sulawesi Selatan identik dengan nama Toraja. Tak bisa dilepaskannya kopi Sulawesi dengan nama Toraja, sampai-sampai kopi yang didapatkan dari para penjual kopi di Kelurahan Kalosi, Kabupaten Enrekang, di berbagai kafe dan oleh roaster Jakarta, dan juga beberapa kota besar lainnya, menjual kopi tersebut secara tidak tepat dengan menamainya Toraja-Kalosi. Pada kenyataannya Kalosi merupakan daerah di Kabupaten Enrekang, bukan di Kabupaten Toraja dan Toraja Utara. Ketidaktepatan para roaster, dan juga trader, yang menjual kopi dari Sulawesi Selatan yang bukan dari Kabupaten Toraja dan Toraja Utara, membuat daerah penghasil kopi dari kawasan non-Toraja, seperti seperti Bone-Bone, Benteng Alla, Masalle, dll., tidak begitu dikenal di Jakarta, dan barangkali juga di tempat lain.

Toraja-Kalosi bisa juga diartikan penggabungan dua daerah penghasil. Tapi, akan menjadi galat ketika ia dijual atau dikenalkan sebagai kopi single origin. Single origin itu sendiri mengalami pemgembangan dan penyempitan makna. Mulai dari batasan minimum, yaitu kawasan, sampai kopi yang berasal hanya dari satu petani atau kebun dan disangrai dengan profil sangrai tertentu dan disajikan dengan metode tersendiri. Apa pun itu, single origin sekurang-kurangnya adalah kopi yang berasal dari satu daerah, bukan gabungan dua daerah. Dengan begitu, kopi Toraja-Kalosi keliru jika dianggap sebagai single origin jika pengertiannya sebagai gabungan dua daerah penghasil kopi.

Nama Kalosi sendiri, sejak kapan ia digunakan sebagai nomina sebuah kopi yang merepresentasikan daerah sekaligus cita rasa, masihlah kabur. Secara historis, penamaan suatu kopi dengan identitas tempat bisa bermakna macam-macam. Dua makna yang paling sering dipakai adalah nama tempat dan pelabuhan. Seperti nama Java atau Jawa dan Mukha, pada abad 19, itu tidak berarti kopi tersebut ditanam di daerah Pulau Jawa dan Mukha, melainkan juga bisa berarti kopi yang diberangkatkan dari suatu pelabuhan di Pulau Jawa atau di Mukha. Kalosi sendiri bisa berarti pasar dan tempat. Meski di Kalosi ada tanaman kopi, pada saat yang sama mempertimbangkan sebaran kopi spesial Kalosi (sekali lagi, kopi spesial

[specialty coffee] bukan kopi secara umum) di berbagai daerah di luar Kalosi yang melampaui daya produksi tanaman kopi di Kalosi, kopi Kalosi bisa berarti kopi yang dibeli atau dijual oleh penjual kopi asalan di pasar Kalosi yang kopinya bisa berasal dari luar Kalosi.

Salah satu hal yang turut menambah blunder soal penamaan kopi sebagai representasi identitas daerah penghasil adalah persoalan merk dagang. Di wilayah yang menjual kopi secara curah, tanpa merk, kadang masyarakat tempatan memberi sebutan “merk” secara arbitrer dengan mengacu pada tempat ia dijual, bukan dihasilkan, mengingat pasar sebagai tempat penjual kopi itu mendapatkan kopi dari berbagai kecamatan.

Gagasan indikasi geografis yang mencuat sebagai tuntutan sejak satu atau dua dekade lalu ikut menambah kegaduhan. Hal itu karena banyak penjual kopi yang menggunakan nama tempat sebagai merk dagang. Itulah yang terjadi pada persoalan persengketaan indikasi geografis yang menimpa beberapa perusahaan kopi di dunia.

Hal-hal semacam itu yang membuat sulit untuk melacak sejarah penggunaan nama Kalosi pada kopi sedari awal. Jika Kalosi dulunya merupakan nama pasar, yang menjadi pertanyaan, dari daerah mana saja kopi yang dijual di daerah tersebut? Lalu, apakah pada masa-masa awalnya kopi yang berasal dari Toraja yang dijual di Kalosi tetap dijual dengan nama Kalosi atau nama Toraja? Jika tetap dijual dengan nama Kalosi, lantas sejak kapan atribut Toraja disematkan pada kopi yang berasal dari Toraja?

Menurut Jabir Amien, Direktur Administrasi PT Toarco Jaya, ketika kami temui di Padamaran mengatakan bahwa nama Kalosi merupakan nama klasik atau tradisional para pedagang kopi pada abad 20 awal di Sulawesi. “Orang-orang dulu itu enggak ada yang buat nama. Mereka pakai [nama] tradisional, sewaktu mengirim [kopi] dari kalosi, nama itu juga yang mereka pakai….Kalosi sebenarnya nama pasar, meski ada penanaman kopi di sana,” tutur Amien.

Soal pasar, di Sulawesi Selatan masih banyak pasar tradisional yang menjadi tempat bertemunya para petani yang menjual hasil kebunnya secara langsung kepada trader atau juga kepada tengkulak. Beberapa di antaranya adalah Pasar Suddu di Enrekang dan Pasar Ke’Pe, Sapan, dan Minanga di Toraja. Ketika kopi yang dijual itu berupa kopi asalan bukan spesial, tentu tuntutan untuk melengkapi identitas daerah tanam belum tercipta sedemikian rupa sehingga tidak masalah jika kopi yang dijual itu “buta identitas”. Tapi, ketika arus pasar mengarah pada persoalan traceability, akan berbeda halnya jika pemain kopi spesial mengambil kopi asalan dari pasar tersebut tanpa mendapatkan sama sekali identitas daerah penanaman.

Ketika peta laju industri specialty coffee pada masa sekarang menuntut asal-usul kopi yang terlacak atau traceability, maka informasi mengenai kopi yang didapatkan dari Sulawesi Selatan perlu sesegera mungkin dimulai dengan memetakannya, sebagai awalan, secara per kecamatan atau bahkan per desa. Para roaster atau trader yang menjual specialty coffee sudah saatnya memulai memasarkan kopi dengan dilengkapi identitas daerah penghasil tempat kopi itu ditanam. Sehingga ketidaktepatan mengidentifikasi kopi dari Kalosi atau Pasar Suddu sebagai kopi Toraja tidak terjadi terus menerus, dan konsumen kopi spesial pun menjadi tahu kopi yang diminumnya dari mana dan bahkan oleh siapa ditanam. Di sini, rantai nilai atau value chain perlu dipertimbangkan, apalagi jika kopi spesial dari Indonesia hendak menembus pasar Internasional.[]

By |2016-11-16T02:08:37+00:00February 14th, 2012|Artikel|15 Comments

About the Author:

Philocoffee® merupakan perusahaan kopi yang memelopori perkembangan manual coffee brewing di Indonesia.

15 Comments

  1. Endang Tri 14/02/2012 at 09:58 - Reply

    Itu kan hampir sama degan yang terjadi dengan kopi dari Lampung, ternyata karena diberangkatkan (dan diekspor) dari pelabuhan di Lampung, sampai2 dipasar internsional juga dikenal sebagai Lampoong Coffee.

  2. Endang Tri 14/02/2012 at 10:00 - Reply

    Walaupun memang tak dipungkiri bahwa Lampung memang juga merupakan daerah penghasil kopi……

  3. ikhwan 14/02/2012 at 10:50 - Reply

    Perlu diketahui jg pedagang-pedagang kopi dari Toraja dan Enrekang jauh-jauh datang ke Kab. Gowa (Malino) tuk memenuhi kuota mereka. Tak cuma itu kopi dari Malino ini biasa mereka jadikan sampel bahwa kopi ini berasal dari Toraja/Enrekang padahal tidak. Sampai-sampai pernah ada trader kopi dari Jerman datang ke perkebunan kopi di Malino tepatnya di desa Topidi setelah disuguhi kopi dia bersikeras bahwa kopi yg diminumnya itu kopi Enrekang. 😀

  4. darah ningrat 16/02/2012 at 17:16 - Reply

    traceability bisa tercapai kalo kejujuran dan mau repot dilakukan. jadi memang mahalnya specialty adalah dari usaha lebih yang dilakukan.
    Dengan adanya identifikasi lokasi asal produksi maka pemetaan dari kopi akan jelas, karena setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing, dan kita sebagai penikmat kopi akan lebih mudah mencari kopi kegemaran kita jika kesepakatan gegrafis tercapai yang hasilnya kita dipermudah di masa depan, walaupun di awal akan terasa berat dalam pemetaan ini.
    traceability akan menjadi alat kita untuk mendapatkan secangkir kopi yang kita inginkan.

    kalau kata iwan fals; jalan kopi masih panjang 🙂

  5. haidir sulle 02/04/2012 at 09:28 - Reply

    Pada awalnya kedua daerah ini sangat sulit untuk di bedakan,baik dari karakter budaya maupun bahasa, pemetaan wilayah keduanya pun baru beberapa puluh tahun belakang ini. Jadi sangat sulit untuk membedakan darimana asal kopi yang pertama. Karena kopi ada sekarang di enrekang dan sekitarnya adalah kopi yang dibudiyakan karena revolusi yang di kembang pada zaman itu (orba). Intensifikasi pertanian yang mengharuskan tanaman kopi warga benteng alla kemudian diganti dengan tanaman kopi yang baru. Dan itu bertahan sampai sekarang. Kopi di enrekang dan toraja sebenarnya sudah mengalami beberapa pergantian jenis kopi. Dari keduanya, apakah kopi itu berasal dari kalosi atau toraja sebenarnya adalah salah. Karena kopi pada awalnya berasal dari jawa, setelah belanda masuk di sulawesi barulah adalah tanaman kopi. Coba lihat di buku NUSANTARA.
    Jadi menurutku berusaha untuk mencari mana yang benar antara kopi kalosi dan kopi toraja yang benar-benar adalah asli dari kedua itu tidak ada, kecuali kopi yang dikembangkan di kedua wilayah ini(toraja dan kalosi) itu baru benar. Ini menurut saya ahahah……

    • philocoffeeproject 02/04/2012 at 14:45 - Reply

      Halo Haidir,
      Terima kasih atas komentarnya. Kami senang membacanya.

      Pertama-tama, dalam tulisan ini kami tidak menyinggung keaslian dalam pengertian ulayat atau indigenous mengingat kopi itu tanaman asli dari ethiopia, bukan Indonesia atau Nusantara. Jadi, kata “asal” yang kami digunakan di sini bukan dalam konteks dan pengertian seperti itu, melainkan daerah tanam dan berkonteks single origin. Jadi pendapat Sdr. Haidir yang mengatakan bahwa salah jika mengatakan bahwa kopi ini berasal dari Toraja atau Kalosi, jelas jauh panggang dari api.
      Kedua, apa yang Sdr. Haidir nyatakan bahwa benar jika kita membicarakan soal Toraja dan Kalosi ini dalam pengertian dikembangkan, justru itu yang diangkat dari tulisan ini.
      Ketiga, benar dan salah yang kami angkat di sini jangan dilupakan konteks komodifikasinya baik itu dari kopi itu sendiri sampai perihal kultural.

      Betapapun, terima kasih sudah berkomentar.

    • Enos 08/11/2012 at 14:42 - Reply

      Perdagangan kopi dan pohon kopi memang sudah ada tumbuh jauh sebelum belanda masuk ke Toraja, sejarah perang kopi kejadiannya pun terjadi sebelum Belanda mengusai Toraja jadi asal mula adanya kopi itu belumlah jelas, apakah karunia Toraja, atau dibawah pedagang arab.

  6. ARMAN 20/02/2013 at 07:26 - Reply

    KALOSI adalah suatu daerah perdagangan ( pasar) sktr awal abad 20 ,para petani dari pelosok2 di enrekang dan sebagian toraja menjual hasil pertanian mereka ke pasar KALOSI (pasar sudah dipindahkan ke daerah sudu(belajen) sktr thn 80an, jadi sah2 saja klo ada yg menyatakan kopi KALOSI krn KALOSI adalah adalah tempat para pengumpul kopi sebelum di jual ke makassar trus di eksport ke luar negeri, krn klo menyebut semua nama2 kampung penghasil kopi di skitar enrekang toraja sepertinya ga mungkin…mohon dikoreksi klo salah terimakasi….

    • philocoffeeproject 22/02/2013 at 04:59 - Reply

      Jika kita mengacu hal itu sebagai kebiasaan, tentu tidak akan ada permasalahan yang muncul. Konteks tulisan ini mengacu pada soal single origin yang berkembang di dalam diskursus specialty coffee di mana indikasi geografis menjadi salah satu acuan penting. Pada konteks itu, atribut Kalosi dilihat bukan sebagai ruang di mana terjadinya transaksi, melainkan Kalosi dilihat sebagai tempat penanaman dan dibudidayakan langsung oleh masyarakat serta terbatasi oleh kekhasan iklimmikro daerah bersangkutan.

  7. Taufik 02/06/2013 at 13:42 - Reply

    Kopi Kalosi yang Mendunia Kini Mulai Punah
    REP | 30 November 2010 | 03:17 Dibaca: 578 Komentar: 2 Nihil

    Kopi kalosi Dp (Arabika tipika) merupakan salah satu jenis kopi terbaik yang dihasilkan dari Kabupaten Enrekang. Tak heran jika kopi ini sangat digemari masyarakat dunia, khususnya Benua Eropa dan Amerika. Harganyapun selangit.

    Untuk satu kilogram kopi kalosi mencapai 180 dollar atau setara dengan Rp180 ribu per kilogram jika kurs dollar yang berlaku Rp10 ribu per dolar. Sedangkan harga kopi biasa hanya Rp9.300 per kilogram.
    Kondisi Kabupaten Enrekang dengan ketinggian hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (dpl) ini memang sangat memungkinkan tumbuhnya tanaman perkebunan dan sayuran yang subur.

    Salah satu tanaman perkebunan di daerah yang terkenal hingga Benua Eropa dan Amerika, Kopi. Jenis tanaman ini, hanya bisa tumbuh di dataran tinggi, seperti halnya di Kabupaten Enrekang.
    Pengembangan kalosi DP dilakukan sebagai ikon dan brand mark Kabupaten Enrekang.
    Sayangnya, menurut Bupati Enrekang, H La Tinro Latunrung, tanaman kopi ini hampir punah. Pohon kopi istimewa ini kini tersisa beberapa pohon saja. “Rata-rata setiap rumah tangga tersisa satu hingga dua pohon saja,” ungkap La Tinro.
    Semakin berkurangnya pohon kopi ini membuat bupati merasa prihatin. “Jika ini (kopi kalosi Dp,-red) tak diatasi, saya yakin kopi kalosi akan punah dan hanya menjadi kenangan masa lalu,” katanya di Pendopo rumah jabatan Bupati, beberapa waktu lalu.

    Berawal dari keprihatinan itulah, diapun berupaya mengembalikan kejayaan kopi kalosi dp ini melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan terkemuka di Sulsel, Universitas Hasanuddin (Unhas).
    Kerjasama ini dilakukan untuk pemurnian kopi arabika tipika atau lebih dikenal, kopi Kalosi Dp. Upaya ini terus dilakukan di tengah keprihatinan akan semakin punahnya pohon kopi jenis ini.
    Bahkan, tak tanggung-tanggung, Bupati Enrekang, H Latinro La Tunrung langsung menginstruksikan jajarannya menyiapkan lahan 30 hektare untuk pembibitan Kopi Kalosi.
    Pemerintah Kabupaten Enrekang benar-benar serius ingin mengembalikan citra Kopi Kalosi, sebagai kopi terbaik yang ada di dunia.

    La Tinro mengungkapkan, semakin punahnya kopi kalosi dp akibat produksinya yang sangat rendah. Produksi kopi kalosi hanya mampu memproduksi 300-500 kg per hektre. Sementara kopi biasa mampu memproduksi 2 ton per hektare. Perbedaan jumlah proksi inilah yang membuat masyarakat lebih memilih membudidayakan kopi biasa.
    Namun dia tidak berputus asa dan pesimis. Sebagai bupati dengan latar belakang pengusaha, justru membuatnya tertantang mengatasi masalah ini. Ayah empat anak ini yakin, nilai ekonomi yang tinggi dari jenis tanaman ini justru akan mengangkat perekonomian masyarakat sekaligus mengangkat citra Enrekang khususnya dan Indonesia di mata dunia.

    Hal senada dikatakan Kepala bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Enrekang, UmarSappe.
    “Harga di pasaran dunia, untuk kopi kalosi DP sebesar 180 dolar per kilogram, sementara kopi arabika biasa hanya Rp9.300,” ungkapnya.
    Untuk itu, lanjutnya, Dinas pertanian dan perkebunan Enrekang terus berupaya melakukan pembenahan dan pengembangan kopi kalosi Dp.
    “Beberapa daerah kita akan jadikan sebagai tempat pengembangan kopi arabika tipika (kalosi Dp-red), seperti di Nating, Bone-bone, Masalle, Buntumondong dan Bungin,” katanya.

    Dia menambahkan, sesuai instruksi bupati, pihaknya telah menyiapkan lahan seluas 30 hektare di Desa Sawitto Kecamatan Bungin untuk pemurnian dan membuat sumber benih. “Hasilnya nanti akan menjadi sumber benih kopi arabika tipika (kalosi Dp-red) yang sudah hampir punah.
    Sumber benih inilah yang akan dibagikan ke masyarakat Bumi massenrempulu ini untuk kembali dikembangkan guna mengembalikan kejayaan Enrekang di mata dunia.
    “Jenis kopi ini sudah dari dulu dikenal ke mancanegara dan pasti orang cari, Ungkap Umar begitu meyakinkan. Pusat transaksi hasil pertanian masyarakat Enrekang, pertama kalinya di Kalosi, Kecamatan Alla. Konon kabarnya, dari pasar inilah bermula kopi kalosi dikenal dan menjadi minuman primadona hingga manca negara.
    Tanaman yang dibawa penjajah Belanda ketika itu, dapat tumbuh subur dan memiliki cita rasa yang khas. Kekhasan jenis kopi kalosi dp inilah yang membuatnya sangat disukai.

    Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Enrekang, Umar Sappe mengatakan, faktor agroklimat membuat kopi yang tumbuh di Kabupaten Enrekang memiliki cita rasa yang khas.
    Akses ke daerah ini, sangat terbuka dengan dukungan infrastruktur memadai. Daerah penyuplai buah dan sayuran hingga Papua ini, dapat dijangkau dengan waktu tempuh 6 jam menggunakan angkutan darat dari ibu kota provinsi Sulsel.
    Perjalanan dari ibu kota Provinsi Sulsel, menuju Bumi Massenrempulu ini sangat unik dan tak membosankan. Sebelum menjejakkan kaki di daerah yang kini dipimpin Bupati La Tinro La Tunrung, lima kabupaten yang mesti dilalui.

    Namun, itu bukan kendala. Infrastruktur jalan yang mulus membuat perjalanan lancar. Apalagi pemandangan sepanjang perjalanan yang begitu menakjubkan.
    Selain hamparan sawah menghijau, dan lautan biru menambah indah perjalanan menuju daerah ini.
    Ketika memasuki Kabupaten Enrekang, hawa sejuk mulai terasa.
    Perjalanan dengan pemandangan yang indah ini, akan membuat siapapun yang melakukan perjalanan ke daerah ini tak henti-hentinya berdecak kagum.
    Di daerah inilah tumbuh subur kopi kebanggan masyarakat Enrekang, Kalosi Dp. Dibalik kebanggan memiliki kopi kalosi Dp, muncul kegelisahan dari pemerintah Kabupaten Enrekang. Ternyata, hingga saat ini, Enrekang belum mengantongi hak paten kopi kalosi Dp.

    Masyarakat dan pemerintah kabupaten boleh ngotot mengakui jika kalosi Dp benar-benar kopi Enrekang. Tapi itu belum cukup. Secara hukum, pengakuan tersebut sangat lemah.
    Hak paten merupakan satu-satunya cara mempertegas dan memiliki dasar hukum yang kuat, jika kopi kalosi DP itu produksi Kabupaten Enrekang.
    Dengan satu tekad, mengembalikan kejayaan kopi kalosi Dp yang berasal dari Kabupaten Enrekang, Bupati, La Tinro La Tunrung mendaftarkan hak paten kopi produksi daerah ini.
    Apalagi, menurut Umar Sappe, kopi Kalosi Dp ini sudah dikenal hingga mancanegara. “Baru-baru ini, kita kirim sampel kopi ke Jerman dan mereka tertarik,” katanya.

    Sebagai upaya mempertahankan brand merk Kopi Kalosi Dp dari Enrekang, Pemkab telah mengajukan permohonan hak paten.
    Pengajuan permohonan hak paten sedang dalam proses di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Hukum dan hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

    “Dari sisi budidaya dan hasilnya Enrekang jauh lebih besar. Jangan sampai kita (Enrekang-red) yang punya kopi, tapi daerah lain yang punya nama. Nah, setelah ada merek, citranya sebagai kopi Enrekang akan semakin dikenal dan nilai ekonomisnya akan semakin tinggi,” katanya

  8. medwinz 30/07/2013 at 14:05 - Reply

    Menurut almarhum ayah saya yang orang duri massenrempulu tapi besar di makale tana toraja, sebelum merdeka kopi yang terkenal adalah kopi kalosi. Mungkin memang asalnya bisa dari kalosi, baraka, sudu, cece atau tempat-tempat lain di enrekang, bahkan mungkin juga dari tana toraja. Kakek saya menurut penuturan almarhum ayah saya, seringkali mengumpulkan kopi dari pedalaman toraja dan menjualnya ke kalosi. Tapi tetap namanya adalah kopi kalosi 🙂

    Istilah kopi toraja menurut beliau baru mulai terkenal sekitar akhir 80-an awal 90-an.

    Sebagai seorang penikmat kopi saya hampir tidak bisa membedakan rasa kopi arabika kalosi dan toraja. Hal ini sangat wajar karena komposisi tanah di kedua daerah ini sangat mirip. Tak hanya kopi, bahkan orang awam (baca: di luar orang duri dan toraja) hampir tidak bisa membedakan bahasa duri dan bahasa toraja 🙂 Kedua daerah ini sangat subur, sayuran dari duri adalah yang terbaik di sulsel. Ada yang pernah makan ikan mas yang dipelihara di tengah-tengah saawah di toraja? Nikmat sekali. Mungkin nanti akan muncul juga specialty ikan mas nusantara 🙂

    salam,

  9. g4m4t4tsu 06/02/2014 at 01:10 - Reply

    Mestinya mencontoh Eropa dimana sparkling wine yang dihasilkan di daerah Champagne baru boleh menggunakan nama Champagne. Contoh lain adalah keju Parmesan. Yang asli adalah yang diproduksi di daerah Parma dan beberapa daerah sekitarnya, baru boleh menyandang nama Parmigiano Reggiano. Btw, Saya jg lg ngopi yang labelnya Kalosi, tapi nggak tahu ini beneran dari Kalosi atau tidak, hehehe

    • philocoffeeproject 06/02/2014 at 13:58 - Reply

      Terima kasih atas komentarnya. Soal Champagne dan sejenisnya, ini nanti peraturannya beda lagi. Jadi selain indikasi geografis, ada juga apelasi asal. Nah syarat apelasi asal ini beda lagi dengan indikasi geografis. Dan apakah Indonesia sudah meratifikasinya?

      kalo kopi menggunakan apelasi asal, ada banyak yang masalah yang muncul yang perlu dicarikan solusinya. Salah satu masalah utama adalah: jika apelasi asal, nanti, katakanlah kopi kalosi, kopi tersebut tidak boleh keluar dari Kalosi dalam keadaan “mentah”, harus sudah produk akhir. Karena kopi, produk akhirnya katakanlah kita sepakati di sini sbg kopi yang sudah disangrai. Nah, soal sangrai ini kan sangat memengaruhi rasa kopi itu sendiri. Jadi, bagaimana menentukan profil sangrai kopi kalosi yang bisa disepakati oleh pasar? Jika bisa disepakati, apakah para produsen bisa memenuhinya? Jika bisa, apakah bisa konsisten? Jika peminum kopi kalosi maunya kopi tsb berusia sangrai maksimal 1 bulan ketika mereka terima, bagaimana mengatur distribusi ke duni internasional?

      Berbeda dgn indikasi geografis yang selain bicara kualitas jg daerah produksi, tapi produk tidak wajib dijual dalam bentuk roasted bean atau untuk end user. Beberapa produk memang cocok untuk apelasi asal, beberapa tidak.

      Soal kopi yang kita minum apa benar itu dari kalosi, salah satu cara untuk mengetahuinya bisa melakukan pencantuman di kemasan bahwa green bean dibeli dari koperasi bersangkutan. Jika kopi sudah bersertifikat IG, seharusnya tidak boleh tidak, harus ada informasi semacam itu di kemasan.

  10. septiantowulan 08/08/2018 at 15:47 - Reply

    kopi toraja memang bagus untuk kesehatan tubuh..

Leave a Reply

Gratis Ongkos Kirim

Untuk setiap pengiriman produk yang Anda pesan, akan kami gratiskan biaya pengiriman. Layanan gratis ongkos kirim ini hanya berlaku untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Menikmati Sajian Kopi Kami

Jika Anda membeli produk dengan datang langsung ke Philocoffee, Anda juga bisa memesan kopi yang kami sajikan di bar kami. Kami menyediakan dua pilihan: 1) kopi berbayar; dan 2) kopi gratis. Anda bisa memilihnya senyaman Anda.

Kunjungi toko Philocoffee di Tokopedia untuk mendapatkan kemudahan pembayaran dan fasilitas kredit dan pengiriman dengan Gojek. Dismiss