///Kultur Kopi: Pengalaman Lokal dalam Bingkai Global

Kultur Kopi: Pengalaman Lokal dalam Bingkai Global

Di setiap cangkir kopi yang kita sesap menyimpan narasi historis di dalamnya. Kisah mengenai cinta bercampur peluh yang menetes dari setiap petani dan pemetik kopi. Soal ketelatenan emak-emak dalam memilah-milah mana kopi yang layak dan tidak. Bagaimana selama lima abad peminum kopi yang berjarak ribuan kilometer dari produsen kopi terhubung sedemikian rupa. Mengenai para pekerja di Eropa dan USA yang membuka hari dengan kopi sejak Revolusi Industri sampai sekarang. Tentang para pemikir bebas yang berdebat di kedai-kedai kopi. Tentang sebagian masyarakat Indonesia yang asyik-masyuk mengobrol mengenai berbagai hal mulai dari hal remeh temeh sampai subversif sembari ditemani kopi di sudut-sudut warung kopi. Kesemuanya membentuk hal yang disebut sebagai kultur kopi.

Apa itu kultur kopi? Catherine M Tucker, dalam Coffee Culture: Local Experiences, Global Connections, menyebutkan bahwa kultur kopi merujuk pada berbagai gagasan, praktik, teknologi, makna, dan hal yang terkait dengan kopi (h.7). Mengacu pada rumusan Tucker, lengketnya ngobrol dengan minum kopi yang bisa ditemukan nyaris di berbagai tempat di Indonesia merupakan salah satu bentuk kultur kopi. Perilaku peminum kopi di Indonesia, dan juga di tempat lainnya, menyiratkan banyak gagasan yang terepresentasikan ke dalam bentuk pandangan-dunia, kelas sosial, latar belakang ekonomi, pendidikan, dll. Gagasan-gagasan tersebut bersifat dinamis.

Preferensi selera cita rasa yang membentuk dikotomi a la Starussian antara mana kopi yang baik/jelek, commercial/specialty, enak/tidak enak, cacat/normal, espresso/non-espresso (regular), dll., merupakan modus pengetahuan, persepsi, dan cara interpretasi para peminumnya. Ketiga hal tersebut membentuk struktur mental yang mengaitkan kopi dengan peminumnya. Di sisi lain, bagaimana para peminum kopi memaknai dan melihat fungsi kopi untuk keseharian mereka, ikut dipengaruhi perbedaan pendidikan, pekerjaan, kultur pengetahuan, sumber ekonomi, preferensi dan perilaku masing-masing peminumnya.

Aneka bentuk minuman berbasis kopi seperti cappuccino, coffee latte, frappe, dll., menyembulkan suatu jaringan global yang kompleks. Cappuccino yang dibuat dengan mesin espresso di Italia bisa ikut dinikmati oleh orang Jakarta dengan mesin dan kopi yang sama yang digunakan orang Italia. Kopi Gayo yang berasal dari tempat yang berjarak belasan ribu kilometer dari USA, bisa dinikmati oleh orang Seattle. Hal tersebut dimungkinkan lantaran setiap orang yang berjarak sangat jauh itu terikat bersama di dalam rantai produksi global, mulai dari node petani, pemetik, transportasi, pemrosesan, distribusi sampai konsumen. Ketersambungan yang begitu kompleks yang terbentang dari produsen sampai konsumen inilah yang pada akhirnya membrojolkan sertifikasi seperti fair trade, shade grown/bird friendly, rainforest alliance, organik, UTZ Certified, dll.

Proses pembudidayaan yang terkait langsung dengan lingkungan juga memicu gagasan ekologis bagi para peminumnya. Kopi sebagai komoditas nomor dua—yang diperjual belikan dalam nilai dolar—setelah minyak bumi, mau tak mau memiliki dampak terhadap keberlanjutan lingkungan, termasuk masyarakat tempatan.

Pembrojolan-pembrojolan kognitif seperti yang disebutkan di atas itulah yang menjadikan kopi sebagai fenomena kultural. Kopi merupakan hal kompleks sebagaimana kultur itu sendiri. Interaksi manusia dengan kopi menciptakan kultur kopi. Buku Coffee Culture Tucker ini merupakan penelaahan antropologis mengenai kopi. Tucker menyorot bagaimana dinamika antara kopi dan para perayanya banyak menciptakan berbagai hal yang ikut memoles bagaimana dunia ini berjalan. Mulai dari ekonomi-politik sampai lingkungan.


Tulisan ini sebelumnya pernah dipublikasikan di www.bincangkopi.com.

By | 2015-08-09T02:19:02+00:00 August 9th, 2015|Artikel|1 Comment

About the Author:

Philocoffee® merupakan perusahaan kopi yang memelopori perkembangan manual coffee brewing di Indonesia.

One Comment

  1. DollyPR 22/03/2016 at 15:55 - Reply

    Wah, hebat. Om, boleh dong sekali2 adain ngobrol2 sambil bahas tentang kopi.

Leave a Reply

Gratis Ongkos Kirim

Untuk setiap pengiriman produk yang Anda pesan, akan kami gratiskan biaya pengiriman. Layanan gratis ongkos kirim ini hanya berlaku untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Menikmati Sajian Kopi Kami

Jika Anda membeli produk dengan datang langsung ke Philocoffee, Anda juga bisa memesan kopi yang kami sajikan di bar kami. Kami menyediakan dua pilihan: 1) kopi berbayar; dan 2) kopi gratis. Anda bisa memilihnya senyaman Anda.

Kunjungi toko Philocoffee di Tokopedia untuk mendapatkan kemudahan pembayaran dan fasilitas kredit dan pengiriman dengan Gojek. Dismiss